Rabu, September 29, 2021
26.9 C
Manokwari
26.9 C
Manokwari
Rabu, September 29, 2021

Indonesia COVID-19 Statistics

141,709
Total Kematian
Updated on Wednesday, 29 September 2021, 09:36 9:36 am
38,652
Total Kasus Aktif
Updated on Wednesday, 29 September 2021, 09:36 9:36 am
4,211,460
Total Kasus Terkorfirmasi
Updated on Wednesday, 29 September 2021, 09:36 9:36 am

Sampai Ada Laporan Keuangan, BPKAD Teluk Bintuni Tahan Penyertaan Modal Perusda BMM

BINTUNI, Linkpapua.com- Perusahaan Daerah Bintuni Maju Mandiri (Perusda BMM) diproyeksi mendapat penyertaan modal dari APBD Kabupaten Teluk Bintuni Rp50 miliar. Itu seperti tertuang dalam Perda Nomor 7 Tahun 2017 tentang Penyertaan Modal Daerah.

Hingga 2020, total nominal penyertaan modal yang sudah digelontorkan untuk perusahaan ini Rp 39 miliar. Masih ada sisa sebesar Rp11 miliar dan tahun ini adalah terakhir realisasi pencairannya.

Namun, melihat geliat usaha Perusda BMM yang tidak menunjukkan perkembangan signifikan, sisa Penyertaan modal itu tidak akan dicairkan sebelum Direktur Utama Perusda, Markus Samaduda, menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan dan rencana usaha ke depan kepada Bupati Teluk Bintuni.

“Kami sudah sarankan ke Bupati agar manajemen Perusda mempresentasikan laporan pertanggungjawaban atas penyertaan modal yang sudah terealisasi dan akan dilakukan audit dulu sebelum sisa penyertaan modal itu dicairkan,” kata Herman Kayame S.T., Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Teluk Bintuni, belum lama ini.

Sebagai pemegang Rekening Kas Umum Daerah (RKUD), Herman akan menunda pencairan dana itu, meski tahun ini adalah batas akhir pencairan penyertaan modal.

Sisa penyertaan modal itu akan dicairkan jika manajemen Perusda BMM menyampaikan rencana usaha (business plan) yang riil bisa mendatangkan keuntungan.

Sebab, sejak tahun pertama menerima anggaran penyertaan modal hingga saat ini, Perusda BMM belum serupiah pun memberi konstribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Padahal, tujuan dibentuknya Perusda BMM adalah agar postur APBD Teluk Bintuni tidak bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat maupun provinsi.

“Tahun ini kami rencana akan dianggarkan dana penyertaan modal itu, tapi mungkin tidak terealisasi. Saya sudah sampaikan ke Pak Bupati agar Perusda mempresentasikan dulu bisnis plan-nya, jadi biar jelas rencana penggunaan uang itu,” urai Herman.

Penyertaan modal untuk Perusda BMM yang diatur dalam Perda Nomor 7 Tahun 2017, sudah dicairkan kepada Perusda secara bertahap. Terkait dengan penyertaan modal yang sudah diterima Perusda BMM itu, Herman mengaku pernah menanyakan kepada Markus Samaduda terkait konstribusi terhadap PAD.

“Saya sempat tanya, sudah bisa setor kah? Tapi dijanji bulan depan, bulan depan, hingga hari ini belum. Jadi sampai saat ini belum ada setoran,” ucap Herman.

Herman juga menyampaikan, keberadaan perusda ini sebenarnya sangat bagus apabila manajemennya mampu mengelola dengan baik. Sebab, dengan penyertaan modal yang sudah diterima, banyak potensi usaha di Teluk Bintuni yang dapat dikelola dan menghasilkan uang.

Namun, dari yang dilihat Herman, manajemen perusda terlalu muluk-muluk dalam merencanakan program usaha, tetapi tidak menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.

Seharusnya, kata Herman, perusda fokus dulu pada program usaha jangka pendek, seperti penyediaan tenaga kerja (man power supply), pengelolaan sampah, maupun bisnis BBM.

Dalam rencana bisnis BBM, perusda akan membangun SPBU Portable di empat titik, dengan kapasitas masing-masing 20 kiloliter. Pilihan SPBU tipe ini, karena praktis, mudah dipindahkan sesuai kebutuhan, tidak memakan waktu lama dalam pembangunannya, serta sesuai kondisi geografis Teluk Bintuni.

Namun, rencana pembangunan SPBU yang sedianya akan mulai direalisasi pada 2020, hingga kini belum ada wujudnya.

“Mau saya itu perusda kelola satu bidang usaha dulu, bila sudah berhasil ada pemasukan dan keuntungan bagi perusda dan pemerintah daerah, baru dia buka satu lagi. Jadi konsentrasi, tidak menghambur-hambur uang begitu,” tutur Herman.

Bisnis BBM dengan membuka SPBU, lanjut Herman, sebenarnya sudah tepat dilakukan oleh perusda. Selain komoditas itu menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat, perusda sudah memiliki kapal sendiri untuk membeli BBM dari Pertamina.

Memang jika dibandingkan dengan supply BBM ke perusahaan, keuntungan dari membuka SPBU ini relatif kecil dan terbilang recehan. Namun, yang perlu diingat, salah satu misi perusda adalah menjalankan usaha dan pelayanan kepada masyarakat.

“Meski keuntungannya kecil, tapi kalau masuk setiap hari secara rutin, akan terkumpul banyak dan menjadi besar. Fungsi pelayanan ke masyarakat juga berjalan,” tukas Herman.

Usaha seperti ini juga akan menjaga cash flow Perusda dengan penyertaan modal yang telah diterima dari daerah, daripada membiayai rencana usaha jangka panjang yang belum tentu profitable.

Seperti diketahui, dari penyertaan modal yang diterima perusda, uang itu di antaranya digunakan untuk memulai pembangunan hotel atau resort di kawasan Gedung Serba Guna (GSG). Pembangunan hotel ini masuk dalam program jangka panjang perusda.

Namun, melihat tren okupansi dari hotel dan penginapan yang saat ini sudah menjamur di Teluk Bintuni, pembangunan hotel atau resort oleh perusda dianggap kurang profitable.

“Apalagi itu, kan, program jangka panjang. Seharusnya fokus dulu pada program jangka pendek, sampai betul-betul berjalan dan mendatangkan, kemudian uangnya bisa diputar untuk menjalankan program jangka menengah dan jangka panjang,” beber Herman. (LP5/red)

Latest news
Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here