oleh

Cerita Pilu Yasir Nur, Tokoh Pemekaran Teluk Bintuni yang Terlupakan

BINTUNI, Linkpapua.com – Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat, dalam hitungan jam akan genap berusia 18 tahun. Banyak harapan mengiringi pertambahan usia ini, khususnya dari mereka para tokoh pemekaran.

Yasir Nur (70), salah satu Tokoh pemekaran Kabupaten Teluk Bintuni, bercerita awal dibentuknya tim 100 sebagai tim pemekaran Kabupaten Teluk Bintuni. Tim ini dikoordinasi oleh Decky Kawab (almarhum).

Yasir mengisahkan, rumah adat yang berada di Kali Sodok sebagai tempat pertemuan para pejuang pemekaran tersebut. “Dulu kita kumpul semua di rumah adat yang terbuat dari kulit kayu pada tahun 2002 kami bergerak,” kata Yasir didampingi sang istri, Nurbaena Yasir, saat di temui dikediamannya, Tahiti, Distrik Bintuni, Selasa (8/6/2021).

Pada awal pembentukannya, Yasir berperan sebagai pencari dana. “Saya dengan Pak simon Manibuy (alm), kami sebagai tim pencari dana. Kita datangi perusahaan Endrison bersama dengan Pak Yepta punya Maitua,” kenangnya.

Yasir menambahkan bahwa masyarakatlah yang memberinya mandat berburu dana untuk pembentukan Kabupaten Teluk Bintuni. “Saya ditunjuk oleh masyarakat, mencari dana untuk pemekaran Kabupaten Teluk Bintuni, mereka mengatakan tidak usah ambil bendahara banyak-banyak,” tuturnya.

Perburuan data, kata dia ada di daerah dan ada juga di Jakarta. “Pak Andi Baso dan Pak Deky Kawab sudah di Jakarta,” ucapnya. “Kurang lebih dua bulan saja, kabupaten ini sudah jadi. Dulu Bintuni kecamatan, saya tahun 72 sudah ada di Bintuni,” imbuhnya.

Di usia yang hampir cukup dua dekade, dia berharap Kabupaten Teluk Bintuni lebih maju dalam segala hal dan memberdayakan generasi muda setempat.

“Mudah-mudahan Kabupaten Teluk Bintuni lebih maju ke depan untuk masa depan anak cucu,” harap Nurbaena yang setia mendampingi Yasir.

Sayang, jerih parah Yasir–mungkin juga termasuk pejuang pembentukan lainnya tidak mendapat sorotan bahkan pengakuan selayaknya. Lebih-lebih perhatian untuk kesejahteraan mereka.

“Saya belum pernah dapat cendera mata dari pemerintah. Belum pernah dapat. Bila mengingat saya dengan Pak Simon Manibuy banting tulang,” ucapnya.

Kisah pembentukan Kabupaten Teluk Bintuni juga diutarakan Martapina Yamban Yetu (60).

“Saya dipercayakan tim ditugaskan sebagai bendahara. Ada beberapa orang kami jalan, dari SP ke SP kami tim, Bintuni, Stengkol Barma, sampai di Jagiro,” kenangnya.

“Misal Pak yasir, Pak Waretma (alm), kita dulu mencari dana bukan pake mobil, tapi pake motor. Saya berdua dengan Pak yasir ini baku bonceng. Sampai Pak Waretma berpesan hati-hati itu orang pu maitua. Saya mau kita membangun negeri ini dengan kasih. Kita harus melihat masyarakat yang masih terbelakang,” bebernya.

“Ada uang 5.000 (rupiah) masuk dalam catatan. Kita masuk ke masing-masing kampung. Ada kasih 5.000 ada juga yang kasih 3.000 ada juga yang 10.000 demi pemekaran Teluk Bintuni,” ungkapnya.

Kala itu, ada juga tim 100 yang dikirim ke Jakarta. “Tim 100 ini dipimpin langsung oleh Pak Deky Kawab, dengan dan petuanan seperti Bapak Simon Manibuy, Bapak Yetu yeta, Frans Ijehido. Tahun 2002, 2003, 2004, sampai 2005,” katanya.

Setelah pemekaran, caretaker turun, panitia masih mendampingi karena belum pembubaran. “Kita harus benahi betul-betul masyarakat ini apakah mereka benar-benar menerima caretaker dengan kabupaten ini betul-betul atau tidak,” ucapnya.

“Selama satu tahun kita sama-sama membenahi, harapan dari saya sebagai perempuan dan sebagai tokoh pemekaran kami berharap Kabupaten Teluk Bintuni ini harus berjalan dengan baik mulus. Kita punya anak-anak, harus dia maju, dia jadi orang yang baik, dan harus dihargai,” terangnya.

Dia juga menegaskan bahwa pembentukan Kabupaten Teluk Bintuni tidak sebatas dilakukan oleh suku tertentu. “Kita tim pemekaran kabupaten ini bukan dari tujuh suku, dulu itu semua yang berdomisili di Kabupaten Teluk Bintuni. Biar pendatang, jadi tidak ada istilah tujuh suku. Semua orang Papua dan pendatang bersatu merasa memiliki negeri ini dia juga mengambil bagian,” bebernya.

Senada dengan Yasir, Martapina juga mengutarakan tidak banyak mendapat perhatian dari pemerintah. “Selama kabupaten ini mulai jalan sampai hari ini juga, tidak pernah ada pemerintah yang datang, ada tokoh-tokoh masyarakat yang ikut mengambil bagian untuk pemekaran di berikan cendera mata. Tidak ada, hanya kita dengar saja ulang tahun ke ulang tahun,” akunya.

“Besok lusa itu kita harus berdiri sendiri. Jangan kita tinggal di orang punya rumah. Kita harus punya rumah sendiri supaya kita mau bergerak kiri kanan itu bebas. Kalau di orang punya rumah, kita mau bergerak itu kita malu, kita mau cari makan kita malu,” ucapnya.

Namun, dia tetap berharap ke depan untuk pembangunan di Teluk Bintuni tetap berjalan dan merata. “Jangan melihat ini saya punya orang tidak boleh, semua ini datang untuk Negeri, jadi harus merata. Pembangunan fisik maupun SDM (sumber daya manusia),” harapnya. (Saryanto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terkini