27.9 C
Manokwari
Selasa, Februari 27, 2024
27.9 C
Manokwari
More

    Kasus Stunting Papua Barat Naik, Asisten I: Harus Dilakukan Penanganan Multi Pihak

    Published on

    MANOKWARI, Linkpapua.com- Asisten I Setda Papua Barat Robert Rumbekwan mengatakan stunting merupakan masalah gizi kronis yang bisa dicegah dengan penanganan tepat dan cepat. Ia menyebut, stunting disebabkan oleh banyak faktor, terutama asupan nutrisi yang kurang selama 1.000 hari pertama kehidupan.

    “Kondisi ini harus kita tangani secara bersamaan, sehingga untuk menangani kemiskinan ekstrem. Sedangkan untuk percepatan penurunan stunting, salah satu strateginya yakni telah diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting,” ujarnya membacakan sambutan penjabat Gubernur Papua Barat dalam Rakerda BKKBN Papua Barat, Kamis (2/3/2023).

    Baca juga:  Dinkes Beberkan Pemicu Naiknya Tren Penyebaran HIV/AIDS di Teluk Bintuni

    Kata dia, perpres tersebut merupakan payung hukum dari strategi nasional percepatan penurunan stunting yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2018.

    “Upaya pengurangan kemiskinan ekstrem dan penurunan stunting tidak dapat dikerjakan oleh satu instansi saja tetapi harus melibatkan multi pihak termasuk sektor swasta,” ungkapnya.

    Dia menjelaskan, khusus untuk stunting, berdasarkan hasil SSGI tahun 2022, Papua Barat mengalami kenaikan 3,8 persen dari kondisi tahun 2021 sebesar 26,2 persen menjadi 30.0 persen.

    “meskipun data tersebut hasil survei, namun merupakan potret dari upaya konvergensi yang telah dan sedang kita lakukan,” ujarnya.

    Baca juga:  Angka Prevalensi Naik Signifikan, Manokwari Jadi Kabupaten Prioritas Program Penurunan Stunting

    Dikatakan Robert, beberapa langkah konkret untuk mempercepat penurunan stunting di Papua Barat, yakni melakukan verifikasi dan updating data EPPGBM. Hasil pendataan keluarga 2022 oleh karena data-data tersebut merupakan data riil untuk melakukan intervensi spesifik dan intervensi sensitif.

    Menurut dia, pemberian tambahan asupan nutrisi pemulihan bagi bayi 0-23 bulan yang berisiko stunting haruslah tepat sasaran, tepat komposisi menu, tepat jumlah dan tepat waktu, dengan sistim pengelolaan yang terkoordinir dan terkontrol.

    Baca juga:  DPR Ingatkan Gubernur Papua Barat Segera Serahkan LKPJ Akhir Periode

    “Bayi usia 24 – 59 bulan yang sudah terpapar stunting tetap harus diintervensi meskipun sudah sulit untuk sembuh. Hal ini penting agar mereka tidak mengalami penderitaan yang lebih berat,” ungkapnya.

    Disebutkan Robert, penanganan stunting harus dimulai dari hulu. Remaja putri harus diedukasi tentang pentingnya memelihara kesehatan reproduksi, gizi bagi remaja putri.

    “Penanganan stunting harus dilakukan secara multipihak dan konvergen, sehingga saya minta semua instansi yang ditugaskan untuk menangani stunting dan keluarga berisiko stunting, harus benar-benar bersinergi,” tandanya. (LP9/Red)

    Latest articles

    Kejati Papua Barat Tangkap DPO Korupsi Pembangunan Pasar Rakyat Babo, Diburu...

    0
    MANOKWARI,LinkPapua.com- Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejaksaan Tinggi Papua Barat menangkap DPO kasus korupsi proyek pembangunan Pasar Rakyat di Distrik Babo, Kabupaten Teluk Bintuni. Upaya...

    More like this

    Kejati Papua Barat Tangkap DPO Korupsi Pembangunan Pasar Rakyat Babo, Diburu Sampai Mamasa Sulbar

    MANOKWARI,LinkPapua.com- Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejaksaan Tinggi Papua Barat menangkap DPO kasus korupsi proyek...

    Ratusan Personel Polda Papua Barat Tandatangani Pakta Integritas Dikbangum Polri T.A. 2024

    MANOKWARI, Linkpapua.com-Kepolisian Daerah Papua Barat melalui Biro SDM menggelar Penandatanganan pakta integritas serta pengambilan...

    Sekolah Apresiasi Program ‘Si Tarjal’ Polres Teluk Bintuni: Beri Rasa Aman

    TELUK BINTUNI,LinkPapua.com- Program Polisi Antar Jemput Anak Sekolah (Si Tarjal) Polres Teluk Bintuni mendapatkan...