oleh

Tangkal Paham Separatis dan Terirosme, Polres Teluk Bintuni Gelar FGD dengan Lintas Tokoh

BINTUNI, Linkpapua.com – Polres Teluk Bintuni menggelar focus group discussion (FGD) bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan, dan tokoh adat.

FGD mengangkat tema Meningkatkan Kesadaran Masyarakat dalam Menangkal Berita Hoax Guna Mencegah Paham Separatis dan Terorisme di Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat. Ini merupakan bagian dari Operasi Arfak Mansinam 2021.

Kapolres Teluk Bintuni, AKBP Hans R. Irawan, mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan oleh Polda Papua Barat. Ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan selama lima hari ke depan, yakni polisi mengajar, FGD, dan penyuluhan kepada masyarakat. Termasuk di Teluk Bintuni yang berlangsung pada Jumat (28/5/2021).

Hans berujar, masyarakat khususnya di Teluk Bintuni telah sadar dalam menangkal dan berita hoaks. Beberapa cara yang ditempuh untuk mewujudkan hal tersebut, seperti forum komunikasi antar umat beragama, suku, ras, yang menjadikan agama mempererat kekeluargaan.

“Hal yang dilakukan oleh Polres Teluk Bintuni dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Saya ucapkan terima kasih, Kalau memang belum mari kita sama-sama benahi,” kata Hans.

Hans mengakui selama ini masih ada saja kelakuan yang meresahkan masyarakat. Salah satunya adalah penggunakan knalpot racing. “Apalagi ada keluhan dari masyarakat mengenai knalpot racing. Kami dari Polres Teluk Bintuni akan mengambil langkah-langkah tindakan kepada pengendara motor agar masyarakat bisa merasa nyaman,” tuturnya.

Hans menjelaskan, target dari Operasi Arfak Mansinam 2021 adalah untuk meningkatkan rasa dan jiwa nasionalisme terutama di kalangan anak-anak, kamtibnnas, wawasan kebangsaan. “Kami mulai dari anak-anak karena anak-anak ini adalah bibit penerus bangsa, kami akan melakukan kegiatan ini terus berulang bukan hanya sekali,” bebernya.

Untuk mewujudkan kesadaran berkendara, Hans meminta dukungan dari masyarakat. Sebab, kata dia, sering terjadinya lakalantas terhadap anak karena kurangnya teguran dari orang tua. Padahal, ada batasan usia untuk berkendara.

“Karena itu sangat butuh pengawasan dari orang tua. Kalau polisi sendiri, kalau ada anak kecil mengendarai motor belum cukup umur, kami hanya akan melakukan tindakan teguran. Saya berharap kepada orang tua yang mempunyai anak-anak di bawah umur, tolong jangan diberikan hak untuk mengendari motor,” pintanya.

Di luar itu, Hans juga mengapresiasi masyarakat yang bisa rukun hidup berdampingan antarumat beragama. “Saya merasa nyaman tinggal di Kabupaten Teluk Bintuni karena kerukunan umat beragamanya. Gereja serta sebelahnya masjid, merayakan hari besar bersama-sama tidak ada masalah, rukun antarumat beragamanya, ini yang disebut Kabupaten Teluk Bintuni dengan agama keluarga,” terangnya.

“Maka dari Polda datang ke Kabupaten Teluk Bintuni untuk meniru apa yang sudah dijaga oleh Kabupaten Teluk Bintuni yaitu agama keluarga,” pungkasnya. (LP5/red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terkini