oleh

Kisah Daiman, Kakek 70 Tahun Jual Sayur Pakai Sepeda Ontel, Pernah Terapung di Laut 4 Hari

BINTUNI, Linkpapua.com Perjuangan dan semangat hidup yang dimiliki kakek berusia 70 tahun ini patut diacungi jempol. Ramainya kendaraan yang lalu-lalang di Teluk Bintuni tak menyurutkan semangat kakek yang akrab disapa Mbah Daiman ini mengayuh sepeda ontelnya mengais rezeki dengan menjual sayur-mayur.

Bermodalkan sepeda butut yang dibeli dari kawannya, Daiman berusaha bertahan hidup di tengah gempuran kondisi ekonomi yang kian menjerat.

Mbah Daiman berjualan sayur dengan sepeda ontel bukan karena dirinya tidak memiliki kendaraan roda dua. Dirinya mengaku lebih nyaman berjualan sayur menggunakan sepeda ontel. Katanya biar sehat.

“Motor ada di rumahnya anak, tapi saya lebih enak pakai sepeda ontel, karena saya posisinya sudah tua nak, saya jaga kesehatan terutama dada saya kalau naik motor kan kenal angin” terang kakek yang sudah menduda sejak tahun 2002.

Mbah Daiman sendiri tinggal kampung Argosigemerai, RT 05 RW 02 jalur 5, Distrik Bintuni Timur. Di rumahnya yang super sederhana ini ia hidup seorang diri. Putra semata wayangnya diketahui sudah berkeluarga dan tinggal terpisah. Istri dari Mbah Mijan sendiri telah lebih dahulu menghadap Illahi, 2002 lalu.

Kondisi rumah Mbah Daiman seluas 6×6 Meter ini sangatlah sederhana bahkan kondisinya pun sudah reok. Nampak lantai semen yang sudah retak. Beberapa perabotan yang digunakan sehari-hari pun sangatlah sederhana. Sedihnya lagi, ternyata rumah yang ditempatinya itu hanya pemberian dari seseorang.

“Ini rumah yang saya tempati milik bapak Sebaru, dia menyuruh saya untuk tinggal di rumah ini. Anak dan menantu serta kedua cucu ada di jalur 10,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Mbah Daiman sejatinya bukanlah lelaki yang lahir di Teluk Bintuni. Dirinya  adalah perantau dari Ponorogo Jawa Timur yang menginjakkan kaki di tanah Papua sejak 1993 silam.

Sebagai perantau, awalnya ia bekerja sebagai buruh tani. Berlahan dan pasti perjuangannya membuahkan hasil. Ia mendapat hadiah tanah 2 Hektare dari Pemerintah sebagai Transmigran. Disitulah ia menggantungkan hidup sembari menjual sayur keliling menggunakan sepeda ontelnya.

Mbah Daiman di mata warga dikenal memiliki ciri khas yakni selalu memakai baju loreng. Baju inilah yang paling disukai dan menjadi andalan dalam mengais rezeki.

Sehari-hari, Mbah Daiman harus menempuh jarak lebih dari 12 Kilometer agar bisa sampai ke Kota Bintuni untuk berjualan sayur. Mengayuh sepeda sekuat tenaga. Meski perlahan, namun lambat lain sepeda yang dikayuhnya sampai juga di kota Bintuni.

“Pagi buta habis subuh itu saya wes budal (berangkat) keliling jual sayur, nanti siang baru pulang ke rumah, saya bersyukur kadang dengan hasil jualan bersih Rp30 Ribu hingga Rp50 Ribu” ucapnya.

Uang hasil penjualannya itulah yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Juga sebagai tabungan di usianya yang semakin senja.

Selain pedagang sayur keliling Bintuni, ternyata sebelumnya Mbah Daiman kerap berdagang sayur mayur antar pulau menggunakan perahu sewaan. Ia berdagang hingga Kabupaten Fakfak dan sekitarnya.

Alhasil, terombang-ambing di laut lepas tentu sudah menjadi keharusan bagi Mbah Daiman dalam berjualan sayur. Ketakutan akan ganasnya ombak di laut saat cuaca buruk kerap menghantui dirinya.

Ada satu pengalaman buruk yang dialami Mbah Daiman. Pernah dirinya terapung di laut selama 4 hari 4 malam. Dirinya bertahan hidup bermodalkan jerigen 20 liter yang dipakainya berenang.

“Saya sempat juga terapung di lautan Goras sana, selama 4 hari 4 malam bersama 12 orang teman saya. Kami terapung dari hari Jumat, Sabtu, Minggu sampai Senin. Kapal yang kami tumpangi hilang tenggelam karena ombak besar, hingga akhirnya kami ditemukan kapal Taiwan sekitar pukul 2 siang dan puji Tuhan kami semua selamat.

Diakui Daiman, kejadian buruk yang dialaminya di lautan membuatnya trauma sehingga dirinya memutuskan berdagang sayur di kota Bintuni saja menggunakan sepeda ontel miliknya.

Selama di musim pandemi Covid-19, Mbah Daiman mengaku pernah mendapatkan bantuan berupa sembako dari Pemerintah Kampung, sedangkan untuk bantuan langsung tunai (BLT) tidak didapatkan, karena kakek 70 tahun tersebut ikut dalam Kartu keluarga (KK) milik putranya.

“Ya terus terangnya kalau BLT saya memang tidak dapat, karena saya KK nya ikut di KK anak saya” ucap kakek lulusan SMP Bhayangkara era 70an ini.

Sejak menjadi warga transmigrasi di Kabupaten Teluk Bintuni, ia juga mengikuti perkembangan daerah Bituni. Ia mengaku saat ini Bintuni cukup berkembang. Diusia 18 tahun pada 9 Juni 2021 mendatang, sudah terlihat adanya pembangunan, baik fisik maupun sumber daya manusia (SDM).

“Yah, jauh bedanya kalau dulu di Bintuni jalan belum aspal, saat ini sudah aspal, parit-parit sudah banyak yang dicor, apalagi lapangan SP 5 itu dulu belum seperti saat ini, sekarang sudah menjadi alun-alun, ya…namanya transmigrasi itu memang dulu sepi, saya berharap kedepan Bintuni menjadi lebih rame dan maju lagi, lebih khusus di bidang pertanian,” kunci Daiman. (Saryanto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terkini