Rabu, September 29, 2021
27.8 C
Manokwari
27.8 C
Manokwari
Rabu, September 29, 2021

Indonesia COVID-19 Statistics

141,709
Total Kematian
Updated on Wednesday, 29 September 2021, 10:38 10:38 am
38,652
Total Kasus Aktif
Updated on Wednesday, 29 September 2021, 10:38 10:38 am
4,211,460
Total Kasus Terkorfirmasi
Updated on Wednesday, 29 September 2021, 10:38 10:38 am

Usia 19 Tahun, STIH Caritas dan STIE Mah Eisa Menuju Kampus Terkemuka

MANOKWARI, Linkpapua.com- Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Caritas dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mah Eisa genap berusia 19 tahun pada 18 Agustus 2021 lalu. Sehari setelah perayaan hari kemerdekaan Indonesia ke-76 tahun.

Ibarat manusia, usia 19 tahun masih terbilang belia. Tentu masih membutuhkan kerja keras dan inovasi untuk meningkatkan kualitas.

STIH Caritas dan STIE Mah Elisa adalah dua kampus dibawah pengelolaan Yayasan Caritas Papua.Sementara STIH Bintuni kini telah berubah nama menjada STIH Caritas Papua. Kampus ini berdiri sejak 2002 silam.

Dengan usia 19 tahun, kampus yang bertabur calon doktor ini patut untuk dikembangkan. Menjadi kampus swasta terkemuka di timur Indonesia adalah cita-cita yang perlu dorongan kuat dari manajemen.

“Kita berjuang keras sesuai dengan rencana, visi 2025 sudah menjadi kampus terkemuka, artinya sudah akreditasi A,” kata Roberth K.R. Hammar, Ketua STIH Caritas Papua, Jumat (20/8/2021).

Untuk mencapai akreditasi A, sejumlah persyaratan tentu harus dilengkapi. Dosen, kriteria kurikulum, aktivitas mahasiswa, hingga peningkatan infrastruktur mesti ditingkatkan.

“Hal itu sebenarnya bukanlah masalah, karena sementara berjalan. Yang saat ini kita lagi fokus pada peningkatan SDM (sumber daya manusia) dosen,” ucap Roberth.

Kini Yayasan kuliahkan dua puluh Dosen untuk Derajat Doktor tahun ini sementara’ tahun depan 15 dosen hukum mengikuti kuliah S3.

Menurut Hammar yang juga selaku Kepala Biro Hukum Setda Papua Barat ini bahwa fokus Utama STIH Caritas dan STIE Mah Eisa saat ini, adalah peningkatan SDM bagi tenaga dosen. Mereka difokuskan untuk meraih gelar doktor.

“Kita mulai tahun ini bekerja dan berharap tahun 2025 itu kita punya doktor ekonomi dan doktor hukum” beber Roberth.

Kampus yang berdiri melalui Yayasan Caritas ini sedang menggenjot keahlian dosen. Terhitung, pada 2021 ini setidaknya 12 dosen menjalani program peningkatan akademik.

“Saat ini sudah kita ikutkan di yayasan 12 orang, 1 sudah mau selesai, kemudian di hukum itu ada 4 orang, S2 ekonomi ada 10 orang (5 sudah selesai 5 sementara proses penyelesaian). Totalnya, hukum itu ada 20 orang S2. Tahun depan itu hukum akan lanjut S3, maka harapan saya di tahun 2024 itu 25 orang doktor hukum, dan 20 orang doktor ekonomi. Itu bagian yang kita harapkan untuk meningkatkan kualitas,” rinci Roberth.

Baca juga:  Pembahasan Raperdasus MRP-PB Paling Lambat Oktober, Hammar : Sebelum Disetujui Harus Uji Publik

Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) saat ini sedang mendorong Kampus Merdeka yang dibuka sejak Juni 2021 lalu.

Kampus Merdeka merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar oleh Kemendikbudristek yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa dan mahasiswi untuk mengasah kemampuan sesuai bakat dan minat dengan terjun langsung ke dunia kerja sebagai persiapan karier masa depan.

STIH Caritas dan STIE Mah Eisa berupaya maksimal mewujudkan hal tersebut. Manajemen terus mendorong inovasi belajar agar mahasiswa maupun mahasiswi tidak jenuh dengan pemberlakuan kuliah daring saat ini.

“Bagai mahasiswa yang ada sekarang, kita masih kuliah online di semester ini bahkan semester depan. Tatap muka pun hanya untuk praktik-praktik saja. Karena kita jalankan prokes yang sangat ketat,”

Untuk mendorong minat belajar mahasiswa, dosen STIH dan STIE Mah Eisa melakukan sejumlah formulasi, dan kreasi, mulai dengan menampilkan video, gambar, info grafis, dan pemberian tugas-tugas.

Kata Roberth, dengan hal itu diharap bisa mendapatkan kualitas yang baik sesuai dengan kondisi sekarang yaitu, kampus merdeka dan merdeka belajar ini.

Pihaknya berharap mahasiswa memiliki daya tarik untuk bisa belajar mandiri, tentunya tetap dengan pengawasan dosen. Sistem kuliah daring, lanjut Roberth, kembali ke kesadaran mahasiswa.

“Saat dosen sudah berapi-api menjelaskan di depan layar kaca, tapi kalau mahasiswanya bersantai di depan layar handphone-nya juga tidak bisa apa-apa. Makanya kreasi dan formulasi, inovasi terus digenjot,” tuturnya hingga mewujudkan cita-citanya menjadi kampus terkemuka di masa mendatang. Dukungan masyarakat Papua dan Papua Barat menjadi penopang bagi mereka. (LP2/red)

Latest news
Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here