Kamis, Oktober 28, 2021
26.3 C
Manokwari
26.3 C
Manokwari
Kamis, Oktober 28, 2021

Indonesia COVID-19 Statistics

143,299
Total Kematian
Updated on Wednesday, 27 October 2021, 23:39 11:39 pm
12,735
Total Kasus Aktif
Updated on Wednesday, 27 October 2021, 23:39 11:39 pm
4,241,809
Total Kasus Terkorfirmasi
Updated on Wednesday, 27 October 2021, 23:39 11:39 pm

Sepakat Damai, Kepala Suku Hatam Akhirnya Buka Palang Aset Milik Imam Syafi’i

MANSEL, Linkpapuabarat.com- Aset keluarga Imam Syafi’i yang disegel oleh keluarga besar pemilik hak Ulayat di Distrik Oransbari akhirnya dibuka, Kamis (11/3/2021). Pembukaan palang ini dilakukan setelah mediasi dua belah pihak menemui jalan damai.

Pembukaan palang dipimpin langsung oleh Kepala Suku Hatam yang juga adalah Bupati Manokwari Selatan Markus Waran.

Sebelumnya pihak pemilik hak Ulayat yang berdomisili di Oransbari Pantai dan keluarga besar Imam Syafi’i telah dipertemukan oleh pihak kepolisian dan bersama tokoh masyarakat di kantor Polsek Oransbari. Mediasi dipimpin langsung oleh Kapolres Manokwari Selatan AKBP Slamet Haryono.

Turut hadir pada proses mediasi tersebut Komandan Kodim 1808 Manokwari Selatan Letkol Infantri Bobi Marsusitaning S, Kepala Suku Hatam Manokwari Selatan, Tokoh Adat distrik Oransbari, Eliaser Anari yang juga adalah Ketua DPR Manokwari Selatan.

Hadir pula Apolos Sayori yang merupakan koordinator aksi pemalangan aset milik keluarga Imam Syafi’i serta Wakil Ketua DPR Manokwari Selatan Luther Waran. Sementara Imam Syafi’i bersama keluarga besarnya, Haji Tatang selaku ketua Paguyuban Jawa Oransbari serta Seblum Mandacan yang adalah mantan bakal calon Bupati Manokwari Selatan pasangan Imam Syafi’i.

Meski pada awalnya tuntutan pemalangan ini hendak menarik kembali tanah adat yang sudah dikuasai oleh keluarga Imam Syafi’i, namun setelah dimediasi keduanya memilih jalan damai. Mediasi itu menyepakati beberapa poin penting.

Di antaranya, ke depan tidak ada lagi aksi saling sindir di media sosial. Sehingga segala yang menjadi pangkal perselisihan sepakat diakhiri.

Sebelumnya, pemilik hak Ulayat di wilayah Oransbari melakukan pemalangan di sejumlah aset milik Imam Syafi’i dan keluarganya. Ada empat titik tempat yang dipalang termasuk bangunan yang akrab dikenal dengan nama Warung Mangga Dua Distrik Oransbari.

Pemalangan tersebut dilakukan pemilik hak wilayah distrik Oransbari karena merasa kecewa terhadap perbuatan Imam Syafi’i.

Koordinator aksi Apolos Sayori pada saat mediasi berlangsung menyampaikan bahwa yang membuat masyarakat adat sampai berencana menarik kembali aset milik Imam Syafi’i dan keluarganya karena Imam yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri ngotot melanjutkan laporan sengketa pilkada sampai ke Mahkamah Konstitusi.

“Selain itu, ada beberapa statemen yang dilempar. Yang dinilai mencederai perasaan masyarakat adat Oransbari di media sosial,” kata Apolos.

Apolos menjelaskan bahwa masyarakat trans yang ada di Oransbari dalam pandangan masyarakat adat bukan lagi orang Jawa. Namun sudah menjadi keluarga besar masyarakat adat yang mendiami wilayah Oransbari.

Itulah sebabnya kekecewaan muncul begitu besar karena apa yang dilakukan oleh Imam dinilai sangat bertolak belakang dengan apa yang mereka pikirkan tentang warga trans.

“Masyarakat adat Oransbari pada prinsipnya memiliki tanggung jawab terhadap leluhur mereka untuk menjaga warga trans yang ada di daerah tersebut, mereka terikat oleh janji kepada leluhur mereka agar kekeluargaan antara masyarakat adat dan warga trans harus terus dipelihara dengan baik,” paparnya.

Sementara itu Tokoh Adat Distrik Oransbari, Eliaser Anari mengatakan pihaknya sudah berusaha melaksanakan amanah yang dipesankan oleh leluhur mereka. Agar menjaga warga trans.

“Apa yang orang tua kami lakukan demi menjaga keamanan warga trans sudah kami upayakan seperti halnya orang tua kami menjaga warga trans di masa lalu sehingga pada saat masa dimana pasukan OPM bergerak tidak ada satupun warga trans yang disentuh oleh mereka. Tapi apabila apa yang sudah kami upayakan ternyata dibalas seperti apa yang dilakukan oleh saudara Imam, maka kami pasti kecewa, dan dengan memalang aset yang ada itulah cara kami melampiaskan kekecewaan kami,” katanya.

Dirinya juga mengatakan bahwa kekecewaan seperti ini tidak akan terjadi jika seandainya pelaku bukan bagian dari warga trans Oransbari atau seandainya Imam Syafi’i pada pilkada lalu lolos jadi kandidat.

“Tapi karena adanya ikatan kekeluargaan yang dianggap cukup erat, kemudian yang dilawan oleh anak adat mereka adalah kotak kosong sehingga timbul kekecewaan saat Imam Syafi’i yang dinilai bahagian dari keluarga mengadu sampai ke MK,” kata Enari.

Merespons kekecewaan dari masyarakat adat, Imam Syafi’i menyampaikan permohonan maaf kepada semua warga yang ada. Termasuk kepada keluarganya yang turut terlibat dalam persoalan ini.

Imam menjelaskan bahwa unggahan di media sosial pada prinsipnya tidak bermaksud mendiskreditkan Bupati terpilih Manokwari Selatan Markus Waran. Imam mengaku bahwa unggahan tersebut secara umum hanya bersifat kritikan demi kemajuan pembangunan yang lebih baik lagi.

“Namun apabila unggahan di media sosial ini ternyata menyinggung perasaan bapak ibu serta saudara sekalian maka melalui forum ini saya sampaikan permohonan maaf saya,” katanya.

Sementara hal-hal yang berkaitan dengan tahapan pilkada yang akhirnya mereka adukan sampai ke Mahkamah Konstitusi menurut Imam hal tersebut memang harus mereka lakukan. Karena proses pencalonan yang mereka jalani itu bukan hanya tentang mereka sendiri. Banyak pihak yang terlibat termasuk di dalamnya ada bakal calon Bupati.

Imam dan bakal calon bupatinya mengaku harus bertanggung jawab kepada tim kerja mereka dengan melalui semua mekanisme yang disediakan oleh undang-undang. Agar mereka tidak dinilai mempermainkan atau berkhianat terhadap tim.

“Kalau misalnya masih ada upaya yang bisa dilakukan kemudian kami tidak melakukan itu kami juga khawatir dinilai buruk oleh rekan-rekan tim yang ada, bisa saja mereka berpikir kami sudah terima uang dari pak Markus, oleh sebab itu kami harus memperlihatkan keseriusan kami kepada tim supaya mereka tidak kecewa kepada kami, dan akhirnya setelah putusan di MK maka semuanya bisa puas dan bisa menerimanya dengan baik,” jelas Imam.

Apa yang disampaikan Imam dibenarkan bakal calon Bupati pasangannya Seblum Mandacan. Seblum juga menyampaikan bahwa setelah putusan MK kedua bakal pasangan calon ini langsung menghubungi Bupati terpilih untuk menyampaikan selamat.

Setelah mendengar penjelasan dari Imam Syafi’i dan Seblum Mandacan serta permintaan maaf dari ketua paguyuban Haji Tatang akhirnya kepala suku Hatam Manokwari Selatan Markus Waran meminta kepada masyarakat adat Oransbari dan keluarnya Imam Syafi’i untuk memilih jalur yang damai dan tetap bersatu membangun Oransbari dan Manokwari Selatan.

Agar tidak menjadi bias, Markus menjelaskan secara rinci bahwa persoalan ke MK membuat masyarakat menjadi risau karena dampak politik bagi masyarakat Arfak untuk saat ini berbeda dengan dampak politik yang umumnya terjadi di daerah lain.

Akibat dari proses yang masuk ke MK ini sudah memicu ketegangan yang cukup luar biasa di kalangan masyarakat adat. Ketegangan tersebut menurut Markus Waran bahkan masih berlangsung sampai sekarang.

“Dari sisi adat, saya berbicara selaku kepala suku dan dari sisi adat bahwa mungkin bapak Imam Syafi’i tidak mengetahui bahwa belakangan ada banyak orang yang bagi orang lain sudah memenuhi ajal mereka, tapi masyarakat adat tentunya punya kesimpulan berbeda, itulah yang membuat masyarakat sangat kecewa” Jelasnya.

Penjelasan kepala suku yang juga adalah Bupati Manokwari Selatan tersebut akhirnya bisa diterima oleh semua pihak dan palang di sejumlah tempat milik Imam Syafi’i dan keluarganya dibuka. Pembukaan palang tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Suku Markus Waran. (LPB6/red)

Latest news
Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here