Rabu, September 22, 2021
26.6 C
Manokwari
26.6 C
Manokwari
Rabu, September 22, 2021

Indonesia COVID-19 Statistics

140,954
Total Kematian
Updated on Wednesday, 22 September 2021, 20:22 8:22 pm
49,662
Total Kasus Aktif
Updated on Wednesday, 22 September 2021, 20:22 8:22 pm
4,198,678
Total Kasus Terkorfirmasi
Updated on Wednesday, 22 September 2021, 20:22 8:22 pm

Mahasiswa Teluk Bintuni di Yogyakarta “Teriak” Tak Kunjung Terima Beasiswa

YOGYAKARTA, Linkpapua.com- Puluhan masa dari Aliansi Mahasiswa Kabupaten Teluk Bintuni yang berada di kota studi Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta menuntut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Teluk Bintuni segera merealisasikan bantuan sosial (bansos) berupa beasiswa yang belum terbayarkan.

Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Teluk Bintuni DI Yogyakarta (IPMA TB DIY), Julianus Orocomna, mengatakan para mahasiswa maupun mahasiswi asal Teluk Bintuni yang berada di Yogyakarta belum mendapatkan beasiswa.

“Kami menuntut pemerintah daerah melalui Kabag Kesra (Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat) segera cairkan bantuan beasiswa pada akhir tahun 2020 Desember dan tahun 2021 sampai saat ini belum terealisasi,” kata Julianus di Asrama Bintuni Yogyakarta, Sabtu (7/8/2021).

Julianus mengungkapkan, mahasiswa angkatan 2019 hingga 2020 untuk semester tiga belum terima beasiswa. “Untuk kami mahasiswa tujuh suku yang sedang melaksanakan tugas akhir semester hanya terima Rp5,5 juta, padahal seharusnya terima sebesar Rp11 juta,” sebutnya.

Julianus melanjutkan, kondisi serupa juga dialami oleh mahasiswa yang berada di kota lain. “Kami butuh kepastian. Kesra sudah membuat grup WA untuk berkomunikasi kepada setiap mahasiswa di setiap kota studi, tetapi setiap kami komunikasi di dalam grup selalu mengabaikan,” bebernya.

Mereka pun menuntut kepada Pemkab Teluk Bintuni, khususnya Bupati dan Wakil Bupati, agar mengganti Kabag Kesra yang dianggap tidak kompeten menjalankan tugasnya.

“Kami di kota studi Yogyakarta ada 185 orang, selalu menghubungi orang tua kami untuk meminta uang demi keperluan kami sehari-hari. Tetapi, faktor ekonomi orang tua kami berbeda-beda, kasihan orang tua kami banting tulang untuk memenuhi kebutuhan kami,” jelas Julianus. (LP2/red) 

Latest news
Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here