Jumat, Desember 2, 2022
26.5 C
Manokwari
26.5 C
Manokwari
Jumat, Desember 2, 2022

Indonesia COVID-19 Statistics

156,717
Total Kematian
Updated on Monday, 27 June 2022, 10:37 10:37 am
14,516
Total Kasus Aktif
Updated on Monday, 27 June 2022, 10:37 10:37 am
6,080,451
Total Kasus Terkorfirmasi
Updated on Monday, 27 June 2022, 10:37 10:37 am

Dear, Orang Baik! Elis Bawola Bayi Alami Pembengkakan Kepala-Perut Butuh Uluran Tangan

MANOKWARI, LinkPapua.com – Elis Bawola, balita perempuan asal Kampung Iriati, Distrik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, menderita penyakit yang menyebabkan pembengkakan pada kepala dan perutnya. Elis kini terbaring lemah. Ia hanya menunggu uluran tangan para dermawan agar bisa melanjutkan pengobatan.

Penyakit ini diderita Elis sejak berusia 9 bulan. Ia telah menjalani operasi di Jayapura. Namun, karena keterbatasan biaya, Elis terpaksa rawat jalan sejak 4 bulan lalu.

Saat ini Elis hanya bisa terbaring. Tubuhnya ringkih. Hanya sepatah dua patah kata yang bisa terucap dari mulutnya. Ia lebih banyak berisyarat.

Sejak beberapa hari lalu, Elis dirujuk ke RSUP Papua Barat di Manokwari. Ia telah menjalani penyedotan cairan di perut. Namun, ia masih harus dibawa ke Jayapura agar bisa dilakukan tindakan medis lebih lanjut.

“Kami diminta ke Jayapura. Tapi, saya menolak karena tidak ada biaya,” tutur Yemima Marani (35), ibu Elis saat ditemui di RSUP Papua Barat, Manokwari, Jumat (11/11/2022).

Menurut Yemima, sebelumnya Elis sudah dirujuk ke salah satu rumah sakit di Jayapura. Namun, kondisinya tak kunjung membaik.

Yemima juga sudah tak punya biaya untuk meneruskan pengobatan Elis. Akhirnya ia memilih membawa pulang sang anak.

“Setelah balik dari rumah sakit di Jayapura, kami rawat di rumah. Kami rawat seadanya. Kami pasrah,” terang dia.

Kata Yemima, sebenarnya ia diminta untuk membawa kembali Elis di Jayapura. Namun, ia menolak karena alasan biaya. Saat ini ia hanya berharap ukuran tangan dermawan agar bisa melanjutkan pengobatan sang anak.

“Saya tidak mau karena selain tidak ada keluarga, bagaimana biaya kami selama dirawat di sana. Saya sudah tak punya uang,” ucap Yemima.

Tempo hari waktu pengobatan di Jayapura, ia mendapat bantuan Rp10 juta. Saat itu sempat dilakukan tindakan operasi. Dokter memasang selang di tubuhnya. Selang itu menghubungkan kepala dengan saluran kemih untuk menyedot cairan dari kepala.

Baca juga:  Ini Elis Bawola, Balita 4 Tahun dari Wondama yang Alami Pembengkakan Kepala-Perut
Baca juga:  Ini Elis Bawola, Balita 4 Tahun dari Wondama yang Alami Pembengkakan Kepala-Perut

“Sebenarnya kami diminta bertahan di sana. Tapi itu tadi. Kami sudah kehabisan biaya. Ya, saya memilih pulang,” ucapnya.

Dari kondisinya, Elis masih cukup aktif. Ia masih bisa merespons. Meski hanya dengan bahasa tubuh.

Keterbatasan ekonomi membuat Yemima pasrah. Baginya, merawat Elis di rumah adalah pilihan satu-satunya. Suami Yemima, Yakop, seorang tukang ojek.

Penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari. Akibatnya, Elis tak ditunjang oleh asupan gizi yang cukup.

“Suami saya hanya tukang ojek, sesekali kalau ada kerja bangunan, dia ikut sebagai buruh. Penghasilan suami hanya untuk biaya hidup saya dan anak-anak selama ini,” aku Yemima.

“Kemarin (tiga hari lalu) baru saja dilakukan operasi. Tindakan operasi itu untuk mengangkat lendir di perutnya, tetapi dokter di sini merujuk ke Jayapura agar ganti selang di dalam tubuhnya karena sudah tidak berfungsi,” ucap Yemima.

Kata Yemima, menurut dokter, selang yang sudah tak berfungsi di dalam tubuh anaknya menyebabkan penumpukan lendir di bagian perut. Ini harus segera ditangani.

“Saya sebenarnya menolak untuk kembali ke Jayapura karena masalah biaya, hanya saja kemarin katanya ada yayasan yang menjamin. Saya ikut saja sebab terus terang kami tidak mampu membiayai” ucapnya.

Tak Ada Riwayat Benturan

Elis mulai menunjukkan gejala sakit sejak berusia 9 bulan. Menurut Yemima, Elis tak punya riwayat jatuh atau benturan. Saat dalam kandungan, ia juga terbilang normal.

Namun, tiba-tiba kepala mulai membengkak. Lalu perutnya mengalami kondisi serupa. Semakin hari kondisi kian buruk. Tubuhnya kurus dan tak bisa lagi beraktivitas normal.

“Awal 2022 baru ia dirawat di RS Wondama. Tapi peralatan di Wondama tak memadai. Akhirnya dirujuk ke Jayapura,” katanya.

Yemima hanya berharap Elis bisa sembuh. Apapun caranya. Meski sadar ia tak punya biaya, tapi Yemima tak pernah putus asa demi kesembuhan Elis.

“Kami pasrah. Kami berharap Elis bisa sembuh,” imbuhnya. (LP2/Red)

Latest news
Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here