24.2 C
Manokwari
Jumat, Juli 19, 2024
24.2 C
Manokwari
More

    Dari Reses MRP PB di Raja Ampat, Unsur Perempuan Tegaskan Tolak Otsus Jilid II

    Published on

    Raja Ampat – MRP Papua Barat dalam lanjutan Kegiatan Kunjungan Kerja Wilayah (Reses) untuk mendengar pendapat masyarakat terkait eksistensi Undang-Undang 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus menuai beragam pendapat.

    Namun beberapa unsur yang hadir dalam dengar pendapat yang dilaksanakan di aula Phuyaka Mengge Waisai, Rabu (19/8/20) tersebut, menyatakan menolak Otsus Jilid II.

    Perwakilan Unsur perempuan, Cristin Elwod, menyatakan dengan tegas di depan anggota MRP PB bahwa Pihkanya menolak Otsus Jilid II.

    “Kami sebagai perempuan Papua yang melahirkan generasi-generasi Papua, tidak merasakan manfaat Otsus di Tanah ini. Padahal Otsus lahir dari darah dan air mata orang Papua, oleh sebab itu kami dengan tegas menolak Otsus jilid II,” lantang Cristin Elwod disambut aplaus peserta yang hadir.

    Baca juga:  Diskusi WhatsApp Soal Dukungan Pencalonan Pemilu 2024, Plt. Kepala DPMK Raja Ampat Klarifikasi

    “Kami minta kepada MRP PB untuk melihat hak Adat orang Papua yang selama ini tidak di perhatikan dengan baik, padahal Hak Adat orang Papua termuat dalam UU Otsus yang sudah berjalan selama 20 tahun,” lanjut Cristin yang kembali mendapat sambutan meriah peserta yang hadir.

    Hal serupa juga dilontarkan Urbasa, perwakilan unsur perempuan lainnya yang juga hadir pada pertemuan tersebut.

    Menurut Urbasa, selama ini pihaknya tidak merasakan apa sebenarnya manfaat Otsus bagi masyarakat Papua, khususnya para mama-mama Papua.

    Baca juga:  Jerat Ulang Nur Umlati, Kejati Papua Barat Klaim Kantongi Bukti Baru

    “Saya sebagai perempuan Papua, yang berjualan untuk memenuhi kebutuhan makan dan pendidikan anak-anak saya tidak merasakan apa manfaat Otsus itu. Saya yang berjualan di pasar saja, ada kesenjangan antara kami orang Papua dan suku pendatang. Orang pendatang di perhatikan, kami tidak sama sekali,” ujarnya dengan mimik sedih.

    Ia menambahkan bahwa orang Papua hanya dijadikan tameng elit-elit politik dan penguasa guna memuluskan ambisi dan keinginan pribadi mereka tanpa menghiraukan kondisi dan kebutuhan masyarakat Papua.

    Baca juga:  Kampung Yensawai Timur di Raja Ampat Meriahkan HUT Kemerdekaan RI dengan Lomba-lomba Kreatif

    Urbasa meminta kepada MRPB turun ke Pasar dan melihat langsung kondisi para mama-mama Papua yang sebagian besar masih berjualan beralaskan karung atau terpal.

    Sementara Naomi Sakaipele, juga anggota unsur perempuan sedikit melunak. Dirinya meminta agar semua semua pihak melihat kembali Otsus yang telah berjalan selama 20 tahun ini.

    “Saya tidak menyalahkan pemerintah untuk menolak otsus, tapi kalau kita menolak otsus harus ada alasannya. Menolak alasannya apa, begitupun sebaliknya. Harus ada alasannya,” terang Naomi yang juga ketua Lembaga perempuan adat Papua Kabupaten Raja Ampat. (LPB4/Red)

    Latest articles

    Polda Papua Barat Terjunkan Ratusan Personel dalam Operasi Mantap Praja Mansinam...

    0
    MANOKWARI, Linkpapua.com- Dalam operasi Mantap Praja Mansinam I, Polda Papua Barat akan mengirimkan personelnya di wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya (PBD). Operasi...

    More like this

    Pertina Raja Ampat Soroti Minimnya Perhatian Pemda dan KONI Terhadap Atlet 

    RAJA AMPAT,Linkpapua.com- Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Kabupaten Raja Ampat, menyoroti kurangnya perhatian Dinas...

    Kapolri Mutasi 3 Kapolres di Papua Barat  

    MANOKWARI, Linkpapua com-Kapolri Jenderal Pol. Drs. Listyo Sigit Prabowo,M.Si melakukan mutasi sejumlah Kapolres dan...

    Petrus Kasihiw Komitmen Dampingi AFU di Pilgub Papua Barat Daya

    SORONG, LinkPapua.com - Petrus Kasihiw menyatakan komitmennya mendampingi Abdul Faris Umlati (AFU) sebagai bakal...